Perbedaan KPR Syariah, KPR Bank Syariah, dan KPR Bank Konvensional

Perbedaan KPR Syariah, KPR Bank Syariah, dan KPR Bank Konvensional

PERBEDAAN KPR SYARIAH, KPR BANK SYARIAH DAN KONVENSIONAL

PIHAK YANG TRANSAKSI
🔘 KPR Syariah: 2 Pihak yaitu antara pembeli dan developer
🔘 Bank Syariah: 3 Pihak yaitu antara pembeli, developer dan bank
🔘 Bank Konvensional: 3 Pihak yaitu antara pembeli, developer dan bank

Maka harus kita cermati apakah KPR bank baik syariah atau konvensional terjadi transaksi jual beli atau hanya pendanaan dari bank. Jika memang jual beli maka halal dan jika hanya pendanaan bank maka haram.

BARANG JAMINAN
🔘 KPR Syariah: Rumah yang di perjualbelikan/kredit tidak dijadikan jaminan
🔘 Bank Syariah: Rumah yang diperjualbelikan/kredit dijadikan jaminan
🔘 Bank Konvensional: Rumah yang diperjualbelikan/kredit dijadikan jaminan

Ada ikhtilaf ulama mengenai apakah barang yang diperjualbelikan boleh dijadikan jaminan atau dilarang. Dalam hal ini, KPR Syariah mengambil pendapat bahwa rumah yang sedang diperjualbelikan/kredit dilarang dijadikan jaminan.

SISTEM DENDA
🔘 KPR Syariah: Tidak ada denda
🔘 Bank Syariah: Ada denda
🔘 Bank Konvensional: Ada denda

Dalam KPR Syariah tidak boleh ada denda jika ada keterlambatan cicilan karena itu termasuk riba. Dalam jual beli kredit maka sejatinya adalah hutang piutang. Jadi jika harga sudah di akadkan maka tidak boleh ada kelebihan sedikitpun baik dinamakan denda, administrasi atau bahkan infaq sekalipun. Karena ini termasuk mengambil manfaat dari hutang piutang yaitu riba.

SISTEM SITA
🔘 KPR Syariah: Tidak ada sita
🔘 Bank Syariah: Tidak ada sita
🔘 Bank Konvensional: Ada sita

Dalam KPR Syariah tidak boleh melakukan sita jika pembeli tidak sanggup mencicil lagi. Karena rumah tersebut sudah sepenuhnya milik pembeli walaupun masih kredit. Solusinya adalah pembeli ditawarkan untuk menjual rumahnya baik lewat pembeli atau dengan bantuan developer.
Jika misal sisa hutang masih 100 juta kemudian rumah terjual 300 juta. Maka pembeli membayar sisa hutang yang 100 juta dan nilai 200 juta adalah hak pembeli.

SISTEM PENALTY
🔘 KPR Syariah: Tidak ada penalty
🔘 Bank Syariah: Tidak ada penalty
🔘 Bank Konvensional: Ada penalty

Jika pembeli mempercepat pelunasan misal dari tenor waktu 10 tahun kemudian di tahun 8 sudah lunas maka tidak ada penalty dalam KPR Syariah karena itu adalah riba. Bahkan ada sistem diskon yang nilainya dikeluarkan saat pelunasan terjadi.

SISTEM ASURANSI
🔘 KPR Syariah: Tidak ada asuransi
🔘 Bank Syariah: Ada asuransi
🔘 Bank Konvensional: Ada asuransi

Dalam KPR Syariah tidak memakai asuransi apapun karena asuransi adalah haram yang didalamnya ada riba, ghoror, maysir dan lain-lain.

SISTEM BI CHECKING ATAU BANKABLE
🔘 KPR Syariah: Tidak ada BI Checking/Bankable
🔘 Bank Syariah: Ada BI Checking/Bankable
🔘 Bank Konvensional: Ada BI Checking/Bankable

Dalam KPR Syariah tidak ada BI Checking/Bankable sehingga sangat memberikan kemudahan bagi calon pembeli yang kesulitan jika melalui sistem BI Checking/Bankable seperti:

1. Karyawan Kontrak
Syarat lolos BI Checking/Bankable secara umum adalah karyawan tetap. Jadi bagi karyawan kontrak akan kesulitan jika ingin membeli rumah lewat bank

2. Pengusaha/Pedagang Kecil
Syarat lainnya yang bisa meloloskan calon buyer dari BI Checking/Bankable adalah pengusaha yang memiliki izin usaha dan laporan keuangan. Jadi bagi pedagang kecil seperti tukang bakso, somay, gorengan dan lainnya akan sulit jika ingin membeli rumah lewat bank.

3. Usia Lanjut
Calon pembeli yang sudah usia lanjut diatas 50 tahun maka tidak akan bisa membeli rumah lewat bank karena ada batasan usia produktif jika membeli lewat bank.


Berikut penjelasan poin-poin di atas, yang membuat perbedaan KPR Syariah, KPR Bank Syariah, dan KPR Bank Konvensional

  1. Harga Jual beli yang disepakati harus jelas di awal dan tidak boleh ada penambahan sampai pelunasan.
Maka jika membeli sistem kredit dalam akad perjanjian harus berisi total harga kredit.
Hitungan Cicilan = (Total Harga – Uang Muka)/Jumlah Tenor
Contoh :
Harga cash 250jt
Harga kredit 400jt
Tenor 10 Tahun
Dp/Uang Muka : 100jt
Hitungan cicilan = (400t-100jt)/120 bln = 2.5jt perbulan selama 10 tahun dengan cicilan flat.

  1. Barang jaminan boleh, asalkan bukan barang yang diperjualbelikan yaitu rumah tersebut.
Pada sistem jual beli rumah sistem KPR Syariah akadnya adalah jual beli.
Maka jika pembayaran belum lunas tetap rumah merupakan milik pembeli. Developer dilarang menahan hak pembeli atau mensyaratkan nama tidak dibalik sebelum lunas (lunas dulu baru merasa memiliki)
Pada sistem non syariah, akadnya adalah sewa dan beli.
Selama Anda belum lunas, maka ini masih milik mereka
Setelah lunas maka mereka berikan seluruh hak anda.
Kalau macet tengah jalan dan berhenti, maka mereka akan tarik lagi rumahnya …
Kalau yang seperti kejam yaaa..
  1. Denda
Dalam sistem syariah tidak ada denda karena denda adalah riba, lalu bagaimana jika telat membayar?
Ada beberapa solusi :
  1. Dijelaskan pentingnya pembayaran tepat waktu karena jual beli kredit adalah berhutang maka seorang muslim harus bertanggung jwab terhadap hutangnya. Kemudian mengenai DP yang belum lunas maka akan berpengaruh kepada lama atau cepatnya mulai pembangunan.
  2. Memberikan reward atau hadiah ketika pembayaran cicilan sangat tepat waktu
  3. Apabila jual beli di awal sudah macet, maka dicari apa penyebabnya dan diberikan tenggang wktu untuk mencari solusinya.
  1. Dalam sistem syariah tidak ada sita karena ini perbuatan zholim.
Lalu bagaimana jika dia bangkrut atau pembeli tidak bisa melanjutkan cicilan?
Ini beberapa solusi yang bisa dipakai :
  1. Menganalisis dan berdiskusi mengenai keuangan pembeli
  2. Mencarikan solusi keuangan seperti menyediakan lapangan kerja, mengajarkan training bisnis, menunggu sampai beberapa bulan untuk melihat keuangan buyer
  3. Jika solusi diatas tidak membantu, maka bisa menawarkan take over ke orang lain yg dikenal seperti keluarga atau saudara
  4. Solusi akhir adalah rumah tetap dihuni, lalu pembeli menjual rumah dgn harga pasaran. Kemudian darinhasil jual beli itu, sisa hutang kepada developer
dibayarkan dan sisa uang penjualan itu adalah milik pembeli.
contoh :
Rumah macet
Sudah cicil 200jt
Sisa hutang 200jt
Dijual rumah pada tahun ke 7 dgn harga 450jt
Maka 450jt dikurangi 200jt (hutang untuk developer)
Sisanya 250jt adalah milik pembeli macet

  1. BI checking tidak ada dalam sistem syariah sehingga memudahkan banyak pihak. Karena banyak karyawan kontrak yang sulit membeli rumah lewat bank, pedang2 kecil dan usia lanjutpun sulit jika melalui bank. Maka kehadiran KPR sistem syariah tanpa bank hadir untuk memberikan solusi
Inilah penjelasan tentang perbedaan KPR Syariah dengan KPR Bank baik Bank Syariah ataupun Konvensional.

KPR Syariah in syaa Allah dalam transaksinya terhindar dari sistem ribawi dan juga banyak kemudahan yang diberikan bagi para calon pembeli.

Semoga Allah 'Azza wa Jalla memberikan kemudahan kita semua untuk membeli rumah dengan sistem syariah tanpa riba.
Oldest